Ada sebuah kerajaan yang sangat besar kekuasaannya namanya kerajaan Suwung, rajanya bernama Batara Indra, istrinya bernama Dewi Sinta. Mempunyai anak sebanyak 44 orang, laki-laki 22 orang, perempuan 22 orang. Semua anaknya gagah dan cantik.
Batara Indra memerintahkan kepada semua anaknya, untuk mengawini saudaranya, masing-masing kembarannya kemudian, semua membuat rumah masing-masing.
Ejaan Latin:
114. hanulih bubar sabala nira sadaya, hing barénga margéki, bandesa punika, ranggalang kukun nika, lan rangga pajanggik sire ki, dadi pupurukika, sang nata daweg tinangkil // pepek punang tanda mantri sadaya, tumenggung banuwa iki, dadi buntu hhika, sareng lan raka nira, swaraning bala lumaris, kadya kang ngombak, malebuhing kita agelis. pan kapanggih rahadyan tinangkilan, denikang para haji sanakke sadaya, sami bakti hanembah, hana ring rahhadyan mantri, hinggih hatuwan, ka
Arti Indonesia:
114. Selanjut bubar semua rakyatnya, bersama-sama perjalannya dengan bandesa tersebut, ranggalang kukun nika = pelaksana dan rangga pajanggik, mereka ini menjadi pengatur = pupurukika, pada saat menghadap raja. Lengkap dengan para pejabat istana seperti tanda, mantra, tumenggung desa, menjadi sesak suasananya bersama dengan kakaknya, ditambah lagi dengan gemuruhnya suara rakyat seperti ombak, “cepatlah engkau masuk”. Sebab akan bertemu dengan yang mulia dihadap, oleh semua keluarga raja, semua hormat dan taat, sampai kepada para mentri, wahai tuanku,
Arti Inggris:
114